KH. Abdurrahman Wahid: Sang Bapak Pluralisme

Abdurrahman Wahid atau yang biasa disebut Gus Dur adalah seorang tokoh Indonesia yang dikenal sebagai Presiden keempat Republik Indonesia. Beliau lahir pada 7 September 1940 di Jombang, Jawa Timur. Beliau merupakan anak dari pasangan KH. Wahid Hasyim dan Nyai Sholichah, dan beliau juga merupakan cucu dari Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari.

 

Sejak kecil Ia gemar membaca di perpustakaan pribadi milik ayahnya dan perpustakaan umum di Jakarta. Pendidikannya dimulai dari bangku Sekolah Dasar di daerah Jombang kemudian pindah ke Jakarta untuk mengikuti ayahnya yang menjadi Menteri Agama. Setelah ayahnya wafat, Ia melanjutkan kembali pendidikannya di Pondok Pesantren Tambak Beras, Pondok Pesantren Krapyak, dan beberapa pesantren lainnya. Beliau juga sempat menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir dan Universitas Baghdad, Irak.

 

Gus Dur memulai karir pertamanya menjadi seorang guru di Madrasah Mu’allimat Jombang (1959-1963). Kemudian beliau memulai kiprahnya di dunia politik pada pemilihan umum legislatif 1982 ketika beliau berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Beliau terpilih  menjadi Ketua Umum PBNU pada tahun 1984 dan  beliau juga sempat menjadi anggota MPR. Puncak karir politiknya adalah saat beliau terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia yang keempat pada tahun 1999 dengan kabinet Persatuan Nasional.

 

Semasa menjabat  menjadi presiden, Gus Dur dihormati secara luas sebagai guru bangsa dan pembela Hak Asasi Manusia. Beliau  juga diberi gelar “Bapak Pluralisme” atas kebijakannya yang mendukung hak-hak minoritas dan perdamaian. Gus Dur secara konsisten membela hak-hak minoritas dan mereka yang terpinggirkan. Kebijakannya selama menjadi presiden, seperti mencabut larangan terhadap budaya Tionghoa, menunjukan komitmennya terhadap kesetaraan dan keadilan. Peran beliau sangat berpengaruh terhadap demokrasi di Indonesia. Pemikirannya tentang pentingnya negara untuk melindungi setiap hak-hak warga negara untuk mencapai masyarakat yang adil dan demokratis.

READ  PAC IPNU Cilodong Gelar Badmintonidong untuk Tegaskan Solidaritas Kader

 

Beliau juga menyandang gelar “Honoris Causa” karena  memiliki pemikiran yang visioner, demokratis, dan memiliki pemikiran yang mendalam tentang agama, negara, dan masyarakat. Dari pemikirannya tersebut menjadi inspirasi bagi banyak orang.

 

Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009. Dengan diiringi gema takbir dan tahlil dari ribuan santri dan para pelayat yang hadir pada saat penurunan jenazah, pemakaman beliau berlangsung dengan penuh khidmat. Gus Dur meninggal karena mengidap beberapa penyakit seperti gangguan ginjal, jantung, dan diabetes. Beliau dimakamkan di pemakaman yang sama dengan orangtua, kakek, beserta keluarganya di Jombang, Jawa Timur.

 

Meskipun Gus Dur telah tiada, namun hasil dari jerih payah beliau untuk memperjuangkan hak-hak minoritas masih dapat kita rasakan hingga saat ini. Perjuangan dan khidmat Gus Dur terhadap persatuan dan kesatuan NKRI patut kita jadikan teladan untuk Indonesia yang adil dan damai.

 

Kontributor: Afifa Lika Putri

Editor: Aditya Ishlahuddin

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *