7 Habaib Pejuang Bangsa: Biografi dan Kiprah Ulama dalam Kemerdekaan Indonesia

Kemerdekaan Indonesia tidak lahir semata dari kekuatan politik dan militer, melainkan juga dari dorongan spiritual dan moral yang ditanamkan para ulama, termasuk para habaib keturunan Arab yang sejak lama menetap di Nusantara. Para habaib bukan hanya berdakwah di mimbar, tetapi juga turun ke gelanggang perjuangan melawan penjajahan.

 

Berdasarkan istilah Habib menurut bahasa berasal dari bahasa Arab yaitu habba-yuhibbu yang artinya kesayangan atau orang yang dicinta. Dalam tradisi Islam di Nusantara, sebutan ini disematkan kepada keturunan Nabi Muhammad SAW yang dikenal bukan hanya karena nasabnya, tetapi juga karena perannya sebagai pembimbing umat. Dari sinilah para habib di Indonesia tidak sekadar menjadi tokoh agama, melainkan juga pilar moral yang turut meneguhkan semangat kemerdekaan bangsa.

 

Sejak dulu para habaib sudah banyak tinggal di Indonesia. Mereka yang awalnya datang untuk berdagang sambil menyebarkan ajaran agama Islam, kemudian menetap. Para habib itu mendirikan majelis-majelis ilmu dan aktif pergerakan atau berjuang melawan penjajah Belanda.

 

Berikut ini 7 Habaib yang memiliki peran dalam kemerdekaan Indonesia:

 

  1. Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi (Kwitang)

Beliau lebih dikenal dengan nama Habib Ali Kwitang. Dilahirkan di Jakarta 20 April 1870. Wafat pada 13 Oktober 1968 di Jakarta. Habib Ali Kwitang adalah pendakwah tersohor. Untuk menyebarkan dakwah Islam beliau mendirikan Majelis Taklim Kwitang yang juga menjadi cikal bakal bagi organisasi Islam lainnya di Jakarta. Majelis Taklim Kwitang mengajarkan ajaran Islam yang berlandaskan tauhid, kemurnian iman, solidaritas sosial, dan nilai-nilai keluhuran budi atau akhlakul karimah.

Dalam kegiatan dakwahnya, Habib Ali Kwitang menganjurkan kepada masyarakat agar senantiasa melatih kebersihan jiwa melalui tasawuf. Beliau tidak pernah mengajarkan kebencian, hasad, dengki, gibah, ataupun fitnah. Sebaliknya, beliau mengembangkan tradisi ahlul bait, yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, menghormati hak setiap manusia tanpa membedakan status sosial.

 

Habib Ali Kwitang memiliki peran yang sangat penting menjelang kemerdekaan Indonesia. Bapak proklamator, Bung Karno dan Bung Hatta menjadikan beliau sebagai penasehat, tempat meminta petuah dan doa dalam perjuangan menuju kemerdekaan. Berdasarkan informasi dari Ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Zein bin Umar Sumaith, Presiden Soekarno sebelum memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, terlebih dulu menemui Habib Ali Kwitang untuk meminta pendapat mengenai tanggal dan waktu yang tepat untuk membacakan proklamasi. Setelah Habib Ali Kwitang bermunajat kepada Allah Subhanahu Wata’ala, beliau menyarankan agar proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945 dan bertepatan pada 9 Ramadhan 1364 H.

 

  1. Al Habib Idrus bin Salim Al Jufri (Palu-Sulawesi Tengah)

Habib Idrus bin Salim Al-Jufri salah satu pahlawan keturunan Arab yang berjasa dalam Kemerdekaan RI. Beliau berhasil membentengi kawasan Timur Indonesia dari pengaruh Hindia Belanda dan Jepang lewat lembaga pendidikan Alkhairat yang didirikannya.

Ulama keturunan Nabi ï·º kelahiran Hadhramaut Yaman (1892-1969) ini datang ke Indonesia pada usia 17 tahun bersama ayahnya, Habib Salim Al-Jufri. Kedatangan Habib Idrus bersama ayahnya untuk mengunjungi sanak saudara yang berada di Pulau Jawa dan Sulawesi. Saat kunjungan kedua ke Nusantara, Habib Idrus bin Salim Al-Jufri tinggal di Pekalongan pada 1925. Setahun kemudian pindah ke Jombang untuk mengajar dan berdagang. Tahun 1928 pindah ke Kota Solo dan kemudian hijrah ke Sulawesi Tahun 1929.

 

Guru Tua, julukan Habib Idrus, berlayar menuju Manado dan mendirikan Madrasah Alkhairaat di Kota Palu Tahun 1930. Inilah warisan berharga yang ditinggalkan beliau. Hingga saat ini Alkhairaat telah mengukir prestasi dan berkembang menjadi 1.561 sekolah dan madrasah di berbagai daerah. Keberadaan Alkhairaat dan santrinya memiliki peran besar membentengi kawasan Timur Indonesia dari para penginjil di masa Hindia Belanda. Pada waktu itu, ada tiga organisasi yang bertugas mengkristenkan suku-suku terasing di Sulawesi Tengah. Mereka adalah Indische Kerk (IK) berpusat di Luwu, Nederlands Zending Genootschap (NZG) berpusat di Tentena, dan Leger Dois Hest (LDH) berpusat di Kalawara. Lembaga pendidikan Alkhairaat menjadi media dakwah Islam dan pusat doktrinasi nilai-nilai nasionalisme.

 

Hasil penelitian dari Gani Jumat yang berjudul “Nasionalisme Ulama Pemikiran Politik Kebangsaan Sayyid Idrus bin Salim Aljufri Tahun 1891-1969 M” menjelaskan tentang pemikiran Habib Idrus Al-Jufri berbentuk nasionalisme religius dan progresif. Beliau menjadikan pendidikan Alkhairaat sebagai fungsi pemberdayaan sosial yang mengajarkan akhlakul karimah. Alkhairaat membangkitkan patriotisme dan nasionalisme pada masyarkat Palu untuk mengusir penjajah Belanda dan Jepang.

 

  1. Al Habib Salim bin Jindan

Al-Habib Salim, ulama keturunan Rasulullah SAW kelahiran Surabaya 18 Rajab 1324 H atau 7 September 1906 M ini memiliki nama Asli Al Habib Salim bin Ahmad bin Jindan yang bersambung nasabnya sampai Nabi Muhammad SAW.

Ulama yang dijuluki ‘Gudang Ilmu’ pada zamannya ini merupakan murid Syaikhuna Kholil bin Abdul Mutolib yang masyhur dengan sebutan Mbah Kholil Bangkalan. Al-Habib Salim juga berguru dan mengambil sanad ilmu kepada Imam Ahmad bin Zaini Dahlan, Habib Alwi dan Muhammad Al Haddad dan Habib Abu Bakar bin Muahmmad Assegaf. Kedua habib terakhir ini adalah guru yang paling berkesan di hati beliau. Salah satu guru beliau yang lain adalah Al Habib Idrus bin Umar Al Habsyi yang di hadapannya lebih dari 200 kitab beliau baca dan kaji. Masih banyak lagu guru beliau, lebih dari 400 ulama dunia dan 200 ulama Nusantara diambil ilmu dan sanadnya oleh beliau.

READ  PAC IPNU IPPNU Cipayung Gelar Pesantren Kilat, Hadirkan Ruang Edukasi Islami bagi Anak-anak

 

Tenggelamnya hati beliau dalam lautan ilmu tidak melupakannya untuk memikirkan negara dan berjuang berjuang untuk kemerdekaan negaranya. Pada 1940 beliau hijrah ke Jakarta . Beliau membuka beberapa majelis ilmu di beberapa daerah. Selain berdakwah beliau juga menjadi pejuang terdepan untuk kemerdekaan Indonesia, Habib Salim ikut serta membakar semangat para pejuang untuk berjihad melawan penjajah Belanda, dengan tenaga, fatwa dan pidatonya yang berapi-api.

 

Oleh sebab itu ulama yang ahli berdebat dan orator ulung ini pernah ditangkap, baik di masa penjajahan Jepang maupun ketika Belanda. Dalam tahanan penjajah, ia sering disiksa, dipukul, ditendang dan bahkan disetrum. Namun, itu semua tidak melunturkan semangatnya dalam berjuang dan berdakwah, demi amar makruf nahi munkar, menentang kebatilan dan kemungkaran ia tetap tabah, pantang menyerah.

 

Salah satu prinsip utama yang beliau teguhkan dalam hati adalah hubbul wathan minal iman, cinta tanah air adalah sebagian dari pada iman. Ketulusan beliau dalam berjuang untuk kemerdekaan sama sekali tanpa pamrih. Tidak ada sedikit pun keinginan untuk dikenang atau dihargai, beliau tidak pernah memikirkan apakah akan dijadikan Pahlawan Nasional atau tidak. Karena  beliau melakukan itu semata-mata karena lillahi Ta’ala dan kecintaanya pada negerinya.

 

Dikutip dari buku 45 Habaib Nusantara dijelaskan bahwa setelah Indonesia benar-benar merdeka dan aman, beliau kembali membuka majelis taklim yang diberi nama Qashar Al-Wafiddin. Ia pun kembali sibuk berdakwah di seluruh pelosok Nusantara, bahkan majelis dakwahnya meluas ke mancanegara seperti Singapura, Malaysia, Kamboja, dan negara lainnya.

 

Selain berdakwah, dalam perjalanannya selalu cermat dan tekun mengumpulkan sejarah perkembangan Islam di daerah, misalnya di Ternate, Maluku, Ambon, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Timor Timur, Pulau Roti, Sumatera, Pulau Jawa. Catatan itu kemudian ditulis dalam kitab-kitabnya. Siapa pun yang membaca akan semakin mengetahui sejarah perjuangan dan islam, sehingga akan membuat pembacanya semakin cinta Tanah Air.

 

Bukti nasionalisme lain dari beliau adalah dapat dilihat dari berbagai karyanya yang selalu menambahkan ‘Al-Indunisiy’ di akhir namanya. Nama beliau selalu tertulis dengan kalimat Allamah Al-Muhaddits As-Sayyid Salim bin Ahmad bin Jindan Al-Alawiy Al-Husainiy Al-Indunisiy.

 

Dengan kepiawaian beliau dalam berdakwah, Islam kelihatan sangat sejuk dan damai. Karena itu banyak orang non-Islam yang akhirnya memeluk Islam dengan wasilah setelah bertukar pikiran dengan Habib Salim Habib Salim dan mendegarkan ceramahnya.   Selain mendakwahkan Cinta Tanah Air, ada dua hal lain juga yang paling beliau dakwahkan, yaitu tentang pentingnya meninggalkannya yaitu pornografi dan kemaksiatan.

 

Beliau wafat di Jakarta pada 16 Rabiul Awal 1389 H atau 1 Juni 1969 M. Ketika itu ratusan ribu kaum Muslimin dari berbagai pelosok negeri dan dunia. Jasadnya dimakamkan di dalam kubah di kompleks pemakaman Al-Hawi, Cililitan, Jakarta Timur .

 

  1. Al Habib Syaikh bin Salim Al Atthas (Sukabumi)

Habib Syekh bin Salim Al-Athas lahir di Huraidhah, Hadramaut, Yaman, pada hari jum’at bulan Safar, 1311 H, tumbuh dewasa dalam lingkungan keluarga Ba ‘Alawi yang sangat religius. Masa pendidikannya dimulai dari ayahandanya sendiri, habib salim bin Umar bin Syekh Al-Athas ( wafat 1956 ). Sewaktu menginjak usia tujuh tahun, beliau berguru kepada Habib Abdullah bin Alwi Al-Athas, ulama yang lahir di Cirebon, kemudian menetap di huraidhah, dan mendirikan Masjid Ba ‘Alawi, beberapa waktu setelah kembali dari Haidrabad, India.

Habib Syekh bin Salim Al-Athas berguru kepada Habib Abdullah bin Alwi Al-Athas sepanjang siang dan malam, kecuali pada hari Jum’at di masjid Ba ‘Alawi. Di masjid itu pulalah beliau tinggal. Beliau juga memperoleh bimbingan dalam berbagai hal, terutama hal-hal yang berkaitan dengan kemuliaan pribadi. Beliau juga mempelajari beberapa ilmu Qiraat, seni membaca Al-Qur’an, di bawah bimbingan Syekh Sa’id bin Sabbah, yang sangat piawai dalam Qira’at Al-Qur’an. Pada usia 12 tahun beliau telah hafal Al-Qur’an secara sempurna.

 

Sebagai orang yang haus ilmu, beliau berguru kepada beberapa ulama di berbagai tempat. Hampir semua cabang pengetahuan agama dipelajarinya dengan tekun. Beliau banyak menimba berbagai ilmu ushul dan furu’ ( pokok-pokok dan cabang pengetahuan islam ) kepada Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas. Selain itu, beliau juga menuntut berbagai cabang ilmu pengetahuan agama di Mekkah dibawah bimbingan Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, seorang Mufti Mazhab Syafi’I.

 

Bukan hanya belajar, Habib Syekh bin Salim juga gemar berdiskusi. Beliau sering menghadiri berbagai majelis bimbingan dan pengajaran agama di bawah pimpinan Habib Ahmad bin Hasan Al-Athas. Ulama yang sangat terkenal dengan suara dan lagunya ketika membaca Al-Qur’an.

 

Sebagai ulama tulen, beliau bertekad untuk berdakwah ke berbagai penjuru dunia. Pada tahun 1338 H / 1920 M, ketika usianya 27 tahun, Habib Syekh bin Salim berkunjung ke Indonesia, langsung menuju Tegal, Jawa tengah. Disana beliau menjalin silaturrahmi dengan para ulama, sesepuh dan pembesar setempat. Ketika itu di Indonesia sudah banyak tokoh Alawiyyin yang sudah bermukim.

 

Beberapa diantaranya, Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Aththas ( Pekalongan ), Habib Abdullah bin Muhsin Al-Aththas ( Bogor ), Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar ( Bondowoso ), Habib Abu Bakar bin Muhammad Assaqqaf ( Gresik ), Habib Alwi bin muhammad bin Thahir Al-Haddad ( Bogor ), Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi ( Kwitang, Jakarta ) dan Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid ( Tanggul, Jember ).

READ  Kolaborasi IPNU-IPPNU Sukmajaya dan GenRe Sukmajaya Hadirkan SUKMADAYA, Wujudkan Tiga Program Unggulan

 

Kedatangan Habib syekh bin Salim Al-Athas menambah semarak perjuangan dan dakwah islam di Indonesia. Beliau menjalin silaturrahmi dengan para ulama tanah air, seperti Prof.Dr. Buya Hamka ( Jakarta ), KH.Hasyim Asy’ari ( Jombang ), KH.Ahmad Sanusi ( Sukabumi ) KH.Bisri Syamsuri ( Jombang ), KH.Ahmad Dahlan ( Jogja ), Prof. Syafi’i Abdul Karim ( Surabaya ), Prof. Hasbie Ash-Shiddiqy ( Jogjakarta ), Dr.Shaleh Su’aedi ( Jakarta ), Sayyid Abu Bakar bin Abdullah bin Muhsin Al-Aththas ( Jakarta ), Sayyid Abdullah bin Salim Al-Aththas ( Jakarta ), Sayyid Alwi bin Abu Bakar bin Yahya ( Solo ), sayyid Idrus bin Umar Al-Masyhur ( Surabaya ), Sayyid Umar Asseqqaf ( Semarang ) dan Sayyid Ahmad bin Ghalib Abu Bakar ( Surabaya ).

 

Mencermati perjuangan kaum muslimin Indonesia saat itu tak bisa lain bagi Habib Syekh bin Salim kecuali ikut berjuang melawan penjajah Belanda. Tak ayal, gerak-geriknya pun selalu diincar oleh kaum kafir kolonialis itu. Untuk menghindari intel Belanda, beliau menempuh taktik cukup jitu, yaitu berdakwah ambil berniaga. Maka mulailah beliau berjalan kaki keluar masuk kampung menyelusuri Tegal dan sekitarnya. Di kota Bahari inilah beliau menikah dengan seorang putri dari keluarga bangsawan Tegal, Raden Ali. Dan sejak itu di Tegal beliau sangat disegani oleh berbagai lapisan masyarakat.

 

Dalam kapasitasnya sebagai ulama dan pemimpin masyarakat, Habib Syekh bin salim berusaha mendorong dan menggalang kebersamaan dan kerukunan di antara kaum muslimin dalam bingkai roh kemanusiaan. Beliau juga mengajarkan kitab-kitab klasik yang memuat pokok-pokok dan cabang pengetahuan agama, baik ubudiah ( peribadatan ) maupun muamalah ( kemasyarakatan ). Dalam waktu yang relatif singkat beliau mampu menjalin pergaulan dan persahabatan dengan para ulama dan sesepuh di berbagai daerah.

 

Beliau bahkan sempat pula berpartisipasi dalam kancah politik meski dalam waktu yang singkat. Dalam setiap diskusi diskusi, beliau tidak pernah menangkis wacana kaum moderat yang mencuat di tengah masyarakat multi etnik dan kultur- tanpa argumentasi kuat. Beliau senantiasa mencetuskan pemikiran-pemikiran konstruktif, mengonsolidasi segala aspirasi dan perbedaan antar golongan dengan konsep jalan tengah penuh hikmat demi kemaslahatan bersama.

 

Ucapkali beliau menjawab berbagai persoalan dengan kalimat bijak dan sederhana, selaras dengan firman Allah swt, seperti, “Serulah mereka ke jalan tuhanmu dengan hikmah dan anjuran baik”. Juga pesan Rasulullah saw, seperti, “Gembirakanlah dan janganlah buat mereka lari. Permudahlah urusan mereka dan janganlah dipersulit”.

 

5. Al Habib Husein Muthahar

Habib Husein Muthahar merupakan seorang komponis musik Indonesia, terutama kategori lagu nasional dan kepanduan. Salah satu lagu ciptaannya adalah “Hari Merdeka” yang kerap diputar saat 17 Agustus. Selain dikenal lewat karya-karyanya, Husein Mutahar juga merupakan sosok yang berjasa dalam menyelamatkan bendera Merah Putih. Ia juga merupakan penggagas Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Pakibraka) di Istana Negara setiap 17 Agustus.

Dalam biografi nya Habib Husein Muthahar lahir pada 5 Agustus 1916 di Semarang. Nama lengkapnya adalah Husein bin Salim bin Ahmad Al-Muthahar.  Beliau mengawali pendidikannya di Semarang, yaitu di Europeesche Lagere School (ELS), dilanjutkan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) setingkat SMP. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Algemene Middelbare School (AMS) setingkat SMA.

 

Melanjutkan pendidikannya beliau mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada Fakultas Hukum (1946). Namun, Habib Husein memutuskan untuk meninggalkan kuliahnya yang baru berlangsung dua tahun dan ikut bergabung dengan para pemuda nasionalis yang tergabung dalam Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Bersama mereka, Husein Mutahar ikut dalam Pertempuran 5 Hari di Semarang.

 

Habib Husein pernah mengabdi di istana Presiden di Yogyakarta. Saat terjadi Agresi Militer II yang dilakukan oleh Belanda pada Desember 1948. Kala itu ia dipercaya untuk menyelamatkan Bendera Pusaka dari pihak Belanda. Beberapa jabatan penting pernah diemban oleh Husein sejak Indonesia menyatakan merdeka. Diantaranya pernah menjabat sebagai Sekretaris Panglima Angkatan Laut di Yogyakarta dengan pangkat mayor pada 1945, Sekretaris Negara di Jogja, dan Pejabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri. Jabatan terakhir yang diemban Husein sebelum pensiun adalah Duta Besar Indonesia untuk Vatikan. Husein pensiun pada tahun 1974.

 

Selain menjadi abdi negara, Habib Husein juga aktif dalam kegiatan kepanduan. Ia menjadi tokoh utama dalam peleburan semua gerakan kepanduan menjadi Gerakan Pramuka. Ia pun menciptakan sejumlah lagu kepanduan, antara lain Gembira, Tepuk Tangan Silang-silang, Mari Tepuk, Slamatlah, Jangan Putus Asa, Saat Berpisah, dan Hymne Pramuka.

 

Pada HUT ke-1 Kemerdekaan RI, Habib Husein Muthahar mendapatkan tugas dari Presiden Soekarno untuk menyusun upacara pengibaran bendera Merah Putih, 17 Agustus 1946. Beliau kemudian memilih lima pemuda dari berbagai daerah yang berdomisili di Yogyakarta sebagai pengibar bendera. Menurutnya, pengibar bendera adalah anak-anak muda yang mewakili daerah-daerah di Indonesia.

 

Di era Presiden Soeharto, Habib Husein Muthahar yang duduk sebagai Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka Depdikbud, juga diminta menyusun tata cara pengibaran Bendera Pusaka. Beliau kemudian membagi satu pasukan pengibar bendara menjadi tiga kelompok. Kelompok 17 sebagai pengiring atau pemandu; kelompok 8 sebagai kelompok inti pembawa bendera; kelompok 45 sebagai pengawal. Pembagian menjadi tiga kelompok tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

READ  NYABAR: Nyate dan Nobar Bersama PK IPNU-IPPNU Assalamah Meriahkan Idul Adha dengan Semangat Kebersamaan

 

Atas pengabdiannya kepada negara, Habib Husein Muthahar meraih penghargaan Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra. Beliau wafat di Jakarta pada 9 Juni 2004.

 

  1. Al Habib Syarif Sultan Abdul Hamid II

Syarif Abdul Hamid Al-Qadri atau dikenal dengan Sultan Hamid II lahir di Pontianak, Kalimatan Barat pada 12 Juli 1913 dari pasangan Syarif Muhammad Al-Qadri dan Syecha Jamilah Syarwani. Dia merupakan perancang Lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila.

Sultan Hamid II menempuh pendidikan sekolah dasar atau Europeesche Lagere School (ELS) di beberapa kota, yakni Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. Ia kemudian meneruskan pendidikan sekolah menengah umum atau Hoogere Burgerschool (HBS) di Bandung selama setahun. Lalu melanjutkan Technische Hoogeschool (THS) Bandung tapi tidak tamat.

 

Sultan Hamid II lalu menamatkan belajar di Koninklijke Militaire Academie (KMA) di Breda, Belanda. Ia meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda. Setelah lulus pada 1937, ia dilantik sebagai perwira KNIL berpangkat Letnan Dua.

 

Pada 17 Desember 1949, Sultan Hamid II dipilih Presiden Soekarno masuk dalam Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) tetapi tanpa adanya portofolio atau Menteri Negara Zonder Portofolio. Ia kemudian ditugaskan merencanakan, merancang, dan merumuskan gambar lambang negara.

 

Pada 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Sultan Hamid II. Sebagai ketua adalah Muhammad Yamin, dan Anggota Ki Hajar Dewantoro, MA Pellaupessy, Mohammad Natsir, dan RM Ngabehi Poerbatjaraka. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.

 

Dalam prosesnya, muncul dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Namun pemerintah dan DPR kemudian memilih rancangan Sultan Hamid II. Rancangan itu kemudian disempurnakan oleh Sultan Hamid II, Soekarno, dan Mohammad Hatta, dengan mengganti pita yang dicengkeram Garuda. Dari semula pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.

 

Rancangan Lambang Negara juga kembali disempurnakan dengan mempertimbangan masukan-masukan dari banyak pihak, sehingga tercipta bentuk rajawali yang menjadi Garuda Pancasila dan disingkat Garuda Pancasila. Rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978.

 

  1. Al Habib Ahmad Assegaf

Habib Ahmad bin Abdullah Assegaf lahir di Syihr, Hadramaut pada 1879. Beliau merupakan seorang ulama, sastrawan, dan pendidik terkemuka. Dia juga merupakan salah satu pendiri dan pengurus Rabithah Alawiyah, organisasi yang bertanggung jawab mencatat dan menghimpun keturunan Nabi Muhammad SAW di Indonesia.

Saat usia 4 tahun, Habib Ahmad Assegaf dibawa orang tuanya ke Kota Seiwun yang terkenal sebagai penghasil ulama besar dan shalihin. Di kota ilmu ini, ia belajar ushuluddin, fiqh, tata bahasa, sastra, dan tasawuf.

 

Untuk memenuhi rasa haus akan ilmu, Habib Ahmad Assegaf kemudian pergi ke Tarim yang juga dikenal sebagai pusat para ulama besar. Hampir setiap hari, Beliau mendatangi majlis-majlis ilmu berguru ke sejumlah ulama, seperti Sayid Abdurahman bin Muhammad al-Masyhur, Syaikh Saleh, Syaikh Salim Bawazier, Syaikh Said bin Saad bin Nabhan, Sayyid Ubaidillah bin Muhsin Assegaff, Habib Ahmad bin Hasan Alattas, dan Habib Muhammad bin Salim As-Siri.

 

Dari catatan sejarah, Habib Ahmad Assegaf datang ke Indonesia pada 1908 untuk mengunjungi saudaranya Sayyid Muhammad binh Abdullah bin Muhsin Assegaf di Pulau Bali. Namun ia kemudian memutuskan menetap di Indonesia.

 

Habib Ahmad lalu berniara ke sejumlah daerah seperti Surabaya, Solo, Yogyakarta, Jakarta sambil berdakwah mensyiarkan Islam. Di Jakarta, ia menjadi pimpinan sekolah Jami’at Kheir. Beliau kemudian membuka kelas-kelas baru dan menyusun tata tertib bagi pelajar, dan mengarang buku-buku dan lagu-lagu untuk sekolah. Buku-buku pelajaran yang ia susun terdiri dari buku-buku agama, sastra, dan akhlaq.

 

Habib Ahmad juga mendirikan Yayasan Arrabithah Al-Alawiyyah yang bertujuan untuk memajukan bangsa Arab Hadrami baik secara jasmani maupun rohani, kemudian untuk menguatkan tali persaudaraan antara golongan sayyid dan orang Arab Hadrami lainnya, mendidik para anak piatu, menolong janda dan orang yang tidak mampu bekerja dan juga fakir miskin. Perkumpulan ini juga bertujuan untuk memelihara keturunan Sayyid dan menyebarkan penyebaran agama Islam, bahasa Arab serta ilmu lainnya.

 

Melalui pergerakan Arrabithah Al-Alawiyyah pula, Beliau mempunyai pengaruh yang sangat kuat di dalam memberikan petunjuk dan pentingnya persatuan di kalangan umat Islam dalam menghadapi penjajahan. Semua itu dapat dilihat dalam qasidah, syair serta nyanyian yang beliau karang. Habib Ahmad Assegaf wafat pada 1949.

 

Kontributor: Muhammad Fadhil Burhani

Editor: Aditya Ishlahuddin

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *