Memaknai salah satu peristiwa besar dalam Umat Islam, Isra’ Mi’raj. Isra’ Mi’raj bukan hanya sekedar peringatan belaka, namun perlu dimaknai lebih dalam, khususnya bagi umat islam di zaman sekarang.
Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa kehidupan harus mengetahui dimana titik awal dan titik tujuan kita dalam sebuah perjalanan. Setiap kita memiliki titik awal yg berbeda-beda. Misalnya, ada sebagian orang yg memiliki ‘titik awal’ dari angka 0, ada juga sebagian yg titik awalnya dari 10 (dibaca; privilege), bahkan tidak sedikit yg memulai titik awalnya dari -5 karena kondisi keadaan.
Maka dari itu, setiap kita tidak berhak menghakimi perjalanan orang lain. Karena kita tidak pernah tau proses struggle mereka dalam memulai perjalanan di titik awal mereka masing-masing. Seperti halnya sesama ‘musafir’, kita seharusnya saling support , saling bercengkrama, dan saling sharing dari perjalanan kita. Karena barangkali dari pertemuan dengan musafir lain, kita mendapatkan ibrah yg mungkin berguna di perjalanan kita ke depannya.
Dan dalam sebuah perjalanan, kita tidak harus terburu-buru untuk langsung sampai tujuan kita. Terkadang, perlu kita untuk sekedar istirahat atau sekedar bengong sejenak menikmati perjalanan kita. Seperti halnya pada perjalanan Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad dari Masjidil Haram tidak langsung naik ke Sidratul Muntaha, namun justru mampir ke tempat-tempat seperti Yastrib untuk solat 2 rakaat, Bukit Tursina untuk melihat tempat Nabi Musa menerima Wahyu atau mampir ke Bethelem (Palestina) untuk melihat tempat kelahiran Nabi Isa.
Maka nikmatilah perjalanan kita masing-masing dengan segala lika likunya. Jangan lupa persiapkan bekal di dalam perjalanan kita, kata Sayyidina Ali, “Hidup adalah perjalanan dan bekalnya adalah takwa”.
Dan terakhir meminjam perkataan dari Mbah Socrates “Hidup yang tidak pernah direnungkan adalah perjalanan tanpa arah”.
Muhammad Fikri
Lampung, 27 Rajab 1447H



